Sisa Pembakaran Batubara dapat Diolah Jadi Bata

Sisa Pembakaran Batubara dapat Diolah Jadi Bata

Medanbisnisdaily.com-Medan. Aktivitas eksploitasi tanah secara terus-menerus dalam jumlah besar sebagai bahan baku pembuatan batu bata merah, berdampak negatif terhadap unsur hara yang terkandung di dalam tanah.

Penelitian menyebutkan, proses penggalian dalam pembuatan bata merah mendorong kemerosotan sumber daya tanah baik mutu maupun kualitasnya. Gejala fisik yang tampak jelas terlihat di tempat pembuatan bata merah adalah semakin tipisnya lapisan tanah, sehingga membuat kemampuan tanah menjadi tidak stabil.

“Dalam artian kemampuan tanah untuk menopang kehidupan tanaman yang berdiri di atasnya pun berkurang dibandingkan dengan tanah yang belum dijadikan tempat industri bata merah,” ujar Director Marketing Reclea Brick, Siswanto Tam, dalam keterangannya, Selasa (10/11/2020).
Pentingnya menjaga ekosistem tanah tersebut telah mendorong Reclea Brick untuk menghadirkan batu bata yang sumber bahan bakunya bukan dari tanah.

“Reclea Brick adalah jenis batu bata yang berbahan baku bahan daur ulang, tidak memakai penggunaan media tanah. Produk ini hadir dengan mengusung konsep ramah lingkungan sebagai bahan material yang layak digunakan untuk kebutuhan perumahan atau properti maupun sarana pendukung pembangunan infrastruktur,” jelasnya.

Batu bata ramah lingkungan ini diproduksi PT Surya Jaya Agung sejak tahun 2015 dan baru tahun ini, siap dipasarkan di dalam negeri, setelah mengantongi Izin Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun sebagai Industri Batu Bata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Kemen LHK RI) dengan Nomor SK. 337/Menlhk/Setjen/PLB.3/7/2017.

Siswanto mengatakan, batu bata yang juga telah lulus pengujian Batako Press (Bahan Fly / Bottom Ash) sesuai Standart SNI oleh Laboratorium Teknik Sipil Politeknik Negeri Medan tahun 2014 ini menggunakan bahan baku dari pemanfaatan sisa pembakaran batubara yang didaur ulang menjadi batu bata.

“Batu bata ini hadir untuk membantu pemerintah dalam mengatasi pencemaran lingkungan di bidang pertanahan yang mulai mengalami kerusakan akibat penggalian ilegal. Di samping itu, batu bata ini merupakan buatan anak Medan, yang menawarkan solusi material bangunan ramah lingkungan dan berdaya tahan lama,” ungkapnya.

Dirinya optimis jika pasar dalam negeri, khususnya Sumatra, akan merespons positif kehadiran batu bata tersebut. Menurutnya, jika dibandingkan dengan bata merah yang terbuat dari bahan baku tanah liat, Reclea Brick lebih unggul dan menguntungkan. Batu bata ini diklaim dua kali lebih kuat dari bata merah. Selain itu batu bata ini memiliki ukuran lebih besar, yakni Standard dengan ukuran 5x10x21 centimeter serta Jumbo yang berukuran 10x10x21 centimeter.

Pria yang juga dipanggil Alung ini menambahkan, dengan Reclea Brick, penggunaan semen material bangunan lebih hemat 70% dan bangunan akan lebih dingin serta kedap suara.

Saat ini pemasaran Reclea Brick meliputi Kota Medan, Pangkalan Susu (Langkat), Rantau Prapat (Labuhanbatu Induk), Kota Siantar, Balige (Tobasa) dan Kabanjahe (Karo). Reclea Brick juga sedang mengajukan proses Sertifikat Green Label Indonesia dari institusi swasta, demi meyakinkan pengusaha properti dalam negeri maupun pemilik-pemilik rumah bahwa penggunaan Reclea Brick lebih ramah lingkungan.

Sumber: https://medanbisnisdaily.com/news/online/read/2020/11/10/122105/sisa_pembakaran_batubara_dapat_diolah_jadi_bata/

Leave a Reply

Your email address will not be published.